Allez Paris - Barcola Allez Paris - Barcola
/home / internasional / Generasi Emas Timnas Prancis: Berada...
INTERNASIONAL

Generasi Emas Timnas Prancis: Berada di Puncak Dunia

Para pendukung timnas Prancis merayakan kemenangan di bar Paris saat Piala Dunia 2026

Para pendukung timnas Prancis merayakan kemenangan di bar Paris saat Piala Dunia 2026

Prancis tidak membuat saya menghabiskan banyak uang untuk membeli bir saat saya masih mahasiswa. Begitulah kelakar Jean-Claude saat duduk di teras sebuah bar di jalan Daguerre, arondisemen ke-14 Paris. Pria paruh baya itu mengenakan jersi Zidane 98 sambil menunggu pertandingan perempat final Piala Dunia antara Prancis dan Maroc dimulai.

Berdasarkan catatan sejarah sepak bola negara tersebut, ini adalah ketujuh kalinya pria berusia lima puluhan itu melihat Prancis di babak perempat final. Ini juga menjadi pencapaian empat kali berturut-turut yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi tim nasional mereka. Hal ini menjadi bukti nyata posisi Prancis di panggung sepak bola dunia saat ini.

Saya pikir anak-anak zaman sekarang tidak menyadari betapa beruntungnya mereka. Mereka lahir dengan sendok perak di mulut mereka, canda Jean-Claude, merujuk pada putranya yang berusia 21 tahun. Sang anak hampir hanya mengenal era dominasi Prancis. Marvin, pemuda yang duduk di sampingnya, membenarkan hal itu. Bagi saya ini normal, tapi saya sadar dulu tidak selalu seperti ini. Ayah saya sering bercerita, katanya.

Generasi tua seperti Jean-Claude dibesarkan dengan era Saint-Etienne yang hebat tetapi sering kalah. Mereka juga melewati masa kelompok Platini yang meraih Euro 84 tetapi tetap dianggap pecundang terhormat karena dua kali gugur di semifinal Piala Dunia 1982 dan 1986. Prancis kemudian mengalami satu dekade keterpurukan setelahnya.

Kami melewatkan Piala Dunia 90 dan 94. Itu adalah masa-masa memalukan dan hampa, kenang Bertrand, seorang pria berusia 48 tahun yang duduk di meja sebelah. Menurut Bertrand, situasi kala itu mirip dengan apa yang dialami Italia saat ini, bedanya Prancis saat itu belum pernah memenangkan empat Piala Dunia.

Periode kelam itu sama sekali tidak dikenal oleh Zacharie, Ali, dan Malo. Ketiga remaja ini sedang merayakan kelulusan sekolah mereka dengan memakai jersi timnas Prancis. Bagi kami, Piala Dunia itu minimal harus masuk semifinal, jika tidak maka dianggap gagal, cetus Zacharie. Bagi generasi yang lahir dengan bintang di dada jersi mereka, melihat pemain terbaik dunia tampil hebat untuk Prancis adalah hal biasa.

Mereka memang pernah mendengar cerita tentang tahun-tahun kelam era Domenech, namun bagi mereka itu seperti dunia paralel. Ingatan sepak bola pertama mereka dimulai dari awal generasi Griezmann, Pogba, dan Varane. Generasi itulah yang memulihkan kehormatan lambang ayam jantan setelah trauma Knysna. Tim yang mereka cintai di era itu bermain solid dan menghibur hingga berhasil membawa pulang trofi Piala Dunia 2018 dan mencapai final pada 2022.

Namun, skuad tahun 2026 tampaknya telah membawa Prancis ke dimensi yang lebih tinggi lagi. Sekarang kami merasa tidak terkalahkan, komentar Fabio yang berusia 24 tahun. Menurut Fabio, selain Lamine Yamal dari Spanyol, Prancis memiliki deretan pemain terbaik di dunia yang kompak dan memiliki ambisi besar untuk menghancurkan setiap lawan.

Memang benar mereka memiliki sesuatu yang istimewa, aku Bertrand. Ia melihat ada karakter kejam penghancur mimpi lawan seperti Jerman, serta permainan indah seperti Brasil atau Belanda dalam skuad ini. Namun, Bertrand menilai persaingan di era tahun 2000 jauh lebih berat daripada sekarang.

Meskipun demikian, generasi tua tetap menikmati aksi para pemain muda seperti Doue, Upamecano, Olise, hingga sang peraih Ballon d'Or Dembele. Seluruh dunia takut kepada kita, ini seperti Dream Team bola basket tahun 92, ujar Pierre-Anne. Keponakannya yang duduk di sebelah sempat bingung dengan referensi tersebut sebelum akhirnya paham setelah mendapat penjelasan singkat.

Jujur saja, kita adalah orang-orang yang beruntung. Mereka berbakat dan berani. Mereka terlihat seperti sekumpulan pria baik yang penuh rasa hormat dan haus kemenangan. Semuanya tampak begitu mudah bagi mereka, tambah Pierre-Anne. Ia juga menasihati keponakannya untuk menikmati momen ini karena tidak ada yang tahu berapa lama era keemasan ini akan bertahan.

Pertandingan melawan Maroc kini telah dilewati. Prancis sekarang berada satu langkah lagi menuju final baru. Laga ini bisa mengangkat status mereka setara dengan tim legendaris dunia seperti Jerman era 80-an dan Brasil era 90-an. Bagi publik Prancis, generasi Mbappe kini telah meninggalkan era Platini dan Zidane jauh di belakang.

// TOPICS
Jurnalis Spesialis Analisis Performa & Statistik Pemain

Pranawa Hakim Saefullah adalah jurnalis yang mendalami analisis performa dan statistik pemain sepak bola. Dengan latar belakang analisis data olahraga, ia memiliki pemahaman mendalam tentang perjalanan karier Bradley Barcola dari akademi Lyon, bersinar di Ligue 1, hingga menjadi andalan PSG dan timnas Prancis. Liputannya yang detail tentang statistik, gaya bermain, dan perkembangan pemain menjadikannya sumber terpercaya bagi penggemar yang ingin mengikuti jejak bintang sayap muda Prancis.